Welcome GKI Taman Cibunut
Jl. Van Deventer No.11, Kb. Pisang, Kec. Sumur Bandung, Kota Bandung, Jawa Barat 40112
About Us....Jl. Van Deventer No.11, Kb. Pisang, Kec. Sumur Bandung, Kota Bandung, Jawa Barat 40112
About Us....Setiap orang pasti pernah mengalami haus. Ketika tubuh kekurangan air, kita segera mencari minuman untuk menyegarkan diri. Namun ada juga jenis haus yang tidak selalu terlihat secara fisik, yaitu haus di dalam hati. Banyak orang merasa haus akan penerimaan, kasih, pengampunan, dan makna hidup. Sering kali manusia mencoba memuaskan kehausan itu dengan berbagai cara misalnya melalui relasi, pekerjaan, kesuksesan, atau pengakuan dari orang lain. Namun setelah semuanya didapatkan, hati tetap terasa kosong. Kisah dalam Yohanes 4:5–42 memperlihatkan bahwa Yesus datang untuk menjawab haus terdalam manusia. Ia menawarkan sesuatu yang jauh melampaui air biasa, yaitu air hidup yang mampu memulihkan kehidupan manusia. Perjumpaan Yesus dengan perempuan Samaria terjadi di sebuah sumur di wilayah Sikhar. Secara sosial dan religius, orang Yahudi biasanya tidak berhubungan dengan orang Samaria karena adanya permusuhan yang panjang antara kedua kelompok itu. Selain itu, perempuan yang ditemui Yesus juga memiliki latar belakang hidup yang rumit. Ia datang mengambil air pada tengah hari, waktu yang biasanya dihindari orang karena panas terik. Kemungkinan besar ia datang pada waktu itu agar tidak bertemu dengan banyak orang. Namun justru pada saat itulah Yesus menemuinya. Yesus memulai percakapan dengan sederhana, “Berilah Aku minum.” Permintaan yang tampak sederhana ini sebenarnya membuka pintu bagi sebuah perjumpaan yang mengubahkan hidup. Melalui percakapan itu Yesus mengarahkan perhatian perempuan tersebut kepada sesuatu yang lebih dalam. Ia berkata, “Barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya.” Yesus sedang berbicara tentang air hidup, yaitu kehidupan baru yang berasal dari Allah. Air hidup ini menunjuk pada anugerah dan karya Roh Allah yang memperbarui manusia dari dalam. Selama ini perempuan itu mencoba memuaskan dahaga hidupnya melalui berbagai relasi, tetapi semua itu tidak memberikan kepuasan yang sejati. Yesus menunjukkan bahwa hanya Allah yang mampu memenuhi kebutuhan terdalam manusia. Air hidup dari Kristus tidak hanya memuaskan untuk sesaat, tetapi menjadi mata air yang terus mengalir di dalam hidup seseorang. Perjumpaan dengan Yesus membawa perubahan yang nyata dalam hidup perempuan Samaria itu. Ia meninggalkan tempayannya di dekat sumur dan kembali ke kota untuk menceritakan pengalamannya kepada orang-orang. Perempuan yang sebelumnya tampak menghindari masyarakat kini justru berani bersaksi tentang Yesus. Ia berkata kepada orang-orang di kotanya, “Mari, lihat! Di sana ada seorang yang mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat.” Kesaksiannya membuat banyak orang datang kepada Yesus dan akhirnya percaya kepada-Nya. Pemulihan yang ia alami tidak berhenti pada dirinya sendiri, tetapi menjadi berkat bagi banyak orang. Kisah ini mengingatkan kita bahwa Yesus datang untuk memulihkan ciptaan-Nya. Ia menjangkau mereka yang sering dianggap tidak layak, terpinggirkan, atau gagal dalam hidup. Tuhan melihat lebih dalam daripada penilaian manusia. Ia melihat potensi pemulihan dalam diri setiap orang. Air hidup yang diberikan Kristus memulihkan relasi manusia dengan Allah, menyembuhkan luka batin, dan memberi harapan baru bagi kehidupan. Dalam kehidupan sehari-hari, kita pun sering mengalami berbagai bentuk kehausan batin misalnya keletihan, kekecewaan, rasa bersalah, atau kekosongan hidup. Bacaan Firman Tuhan hari ini mengundang kita untuk datang kepada Yesus dengan segala keadaan kita. Ia tidak menolak kita, melainkan menawarkan air hidup yang memulihkan. Ketika kita menerima anugerah-Nya, hidup kita pun dipanggil untuk menjadi saluran berkat bagi orang lain melalui kasih, kepedulian, dan kesaksian hidup kita. Kiranya melalui perenungan ini kita diingatkan bahwa Tuhan masih bekerja memulihkan kehidupan manusia dan seluruh ciptaan-Nya. Ketika kita hidup dekat dengan Kristus, air hidup itu tidak hanya menyegarkan diri kita sendiri, tetapi juga mengalir keluar kepada sesama. Di tengah dunia yang sering terasa kering oleh egoisme dan keputusasaan, kehidupan orang percaya dipanggil menjadi mata air yang membawa harapan. Sebab dari Kristus mengalir air hidup yang terus memulihkan kehidupan. Amin.
Sejumlah orang Belanda beraliran Gereformeerde bermukim di Bandung dan membentuk jemaat dewasa di Naripanweg 11 pada tanggal 1 Februari 1916 oleh jemaat induk Christelijke Gereformeerde Kerk te Batavia (Jemaat Kwitang Belanda). Itulah awal hadirnya De Gereformeerde Kerk van Bandoeng, dengan pendeta konsulen Pdt. H. A. van Andel dari Solo sampai Pdt. Dr. J. H. Bavinck dipanggil menjadi pendetanya. Beliaulah yang pada tanggal 18 Juli 1921 meletakkan batu pertama pembangunan gedung gereja di van Deventerweg 15 (kini no. 11) dan meresmikannya pada tanggal 23 Desember 1921. Beliau melukiskan jemaat ini sebagai jemaat yang dikelilingi Tuhan sebagaimana gunung-gunung mengelilingi kota Yerusalem (Mazmur 125 : 2). Gambaran ayat ini tercantum pada cap gereja yang digunakan hingga tahun 1987.
Para pendeta berkebangsaan Belanda silih berganti menggembalakan jemaat, yang konon pernah berjumlah sekitar 900 orang ini. .....Lebih Detail....!